Hai, calon imam.
Bagaimana kabarmu?
Kabar hatimu?
Kabar pendidikanmu?
Dan kabar hafalanmu?
Baik kah? Semoga saja ya.
Maaf aku mengganggu waktu
sibukmu.
Aku hanya meminta waktu
senggangmu sebentar saja.
Aku hanya ingin membahas tentang
chatmu saat itu.
Kamu menulis, “Aku akan
meminangmu sekitar 1 tahun lagi. Sabar ya, InsyaAllah aku akan datang menemui
orangtuamu. Aku di sini sedang do’a dan ikhtiar untuk menjemputmu. Jaga hatimu,
ya”
Kamu tahu bagaimana reaksiku
saat itu?
Aku kaget juga tersanjung.
Kamu tak mau bertanya
kenapa?
Kalau kamu bertanya, aku
akan jawab ini.
“Aku kaget karena tak pernah
terbayang sedikit pun tentang pinanganmu terhadapku dan aku tersanjung, karena
aku akan dipinang oleh seorang penghafal Qur’an”
Namun, sekarang hatiku
terombang-ambing.
Tiba-tiba ada sebuah
pertanyaan dari hati kecilku,
“pantaskan aku untukmu?”
“pantaskan aku untukmu?”
Aku malu pada diriku
sendiri.
Malu akan sikapku.
Malu akan akhlakku.
Aku malu, ya akhi.
“Calon imamku hafizh,
sedangkan aku?”
Dan kamu selalu menjadi
penyejuk hatiku.
“Pantaskan dirimu. Gantungkan
hatimu pada Al-Qur’an, agar Allah menjodohkan kita.
Do’akan aku juga disini. Aku
sedang menimba ilmu untuk membangun keluarga sakinah, mawadah dan rahmah. Kamu juga
harus ingat, Al-ummu madrasatul ula. Sabar ya”
Sungguh, itu adalah susunan kalimat yang membuat hati tenang.
Terimakasih, ya akhi.
Doakan selalu aku untuk istiqomah memantaskan diri.
Sungguh, itu adalah susunan kalimat yang membuat hati tenang.
Terimakasih, ya akhi.
Doakan selalu aku untuk istiqomah memantaskan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar