Rabu, 30 Mei 2018

Calon Imamku Hafizh?


Hai, calon imam.
Bagaimana kabarmu?
Kabar hatimu?
Kabar pendidikanmu?
Dan kabar hafalanmu?
Baik kah? Semoga saja ya.

Maaf aku mengganggu waktu sibukmu.
Aku hanya meminta waktu senggangmu sebentar saja.

Aku hanya ingin membahas tentang chatmu saat itu.
Kamu menulis, “Aku akan meminangmu sekitar 1 tahun lagi. Sabar ya, InsyaAllah aku akan datang menemui orangtuamu. Aku di sini sedang do’a dan ikhtiar untuk menjemputmu. Jaga hatimu, ya”
Kamu tahu bagaimana reaksiku saat itu?
Aku kaget juga tersanjung.

Kamu tak mau bertanya kenapa?
Kalau kamu bertanya, aku akan jawab ini.
“Aku kaget karena tak pernah terbayang sedikit pun tentang pinanganmu terhadapku dan aku tersanjung, karena aku akan dipinang oleh seorang penghafal Qur’an”

Namun, sekarang hatiku terombang-ambing.
Tiba-tiba ada sebuah pertanyaan dari hati kecilku,
“pantaskan aku untukmu?”
Aku malu pada diriku sendiri.
Malu akan sikapku.
Malu akan akhlakku.
Aku malu, ya akhi.

“Calon imamku hafizh, sedangkan aku?”

Dan kamu selalu menjadi penyejuk hatiku.
“Pantaskan dirimu. Gantungkan hatimu pada Al-Qur’an, agar Allah menjodohkan kita.
Do’akan aku juga disini. Aku sedang menimba ilmu untuk membangun keluarga sakinah, mawadah dan rahmah. Kamu juga harus ingat, Al-ummu madrasatul ula. Sabar ya”
Sungguh, itu adalah susunan kalimat yang membuat hati tenang.

Terimakasih, ya akhi.
Doakan selalu aku untuk istiqomah memantaskan diri.

Tidak ada komentar:

Calon Imamku Hafizh?

Hai, calon imam. Bagaimana kabarmu? Kabar hatimu? Kabar pendidikanmu? Dan kabar hafalanmu? Baik kah? Semoga saja ya. Maaf a...